06/09/12

Kesempurnaan itu, Ketika Aku Mencintaimu

"tinggalkan aku sendiri." ucapnya lirih
"tapi..."
"aku sudah terbiasa, jadi pergilah." tambahnya
"maaf, kali ini aku tidak akan lama. jadi tunggulah. aku pasti datang." balas orang di sampingnya.

"sudahlah, jangan bicara seperti itu. aku tahu hari ini pasti masih seperti hari-hari sebelumnya." wanita itu bicara dengan tatapan kosong.
"aku pergi, bersabarlah untuku" ucap lelaki itu dan berlalu begitu saja.

sudah sering kali, widia bersabar menghadapi kekasihnya ini. dia tahu sebagai seorang wartawan, kekasihnya harus sering menginggalkanya. bahkan di waktu-waktu saat widia sangat membutuhkan sosok istimewa itu hadir di sampingnya. widia selalu mengerti bahwa satria harus mengemban tugas mulia. namun hati widia memang tidak bisa dibohongi. dia terlalu lelah menanti satria dalam tangisnya. sekuat hati widia berperang dalam dalam batinnya. kali ini dia harus bersabar lagi. dan terus bersabar.

"ada apa ?" jawab widia dari ponsel yang melekat di telinganya.
"maaf, malam ini aku tidak bisa menemuimu lagi. besok, kita makan siang bersama." pinta satria di seberang.
"sudah ku duga" balasnya singkat
"aku janji, besok siang di cafe biasa. aku pasti datang. janji"
"aku sudah bosan mendengar janjimu yang nihil. lebih baik kita kita jalan sendiri-sendiri saja dulu. sambil saling memahami satu sama lain." tegas widia

"widia. aku mohon. kali ini aku ingin memberikanmu sesuatu. aku janji."
"apa aku harus mempercayaimu lagi seperti sebelum-sebelumnya. kamu tahu, sakitnya aku menantimu dalam janji yang aku harapkan akan kamu tepati." widia terisak
"aku lelah sat, aku lelah bersabar menantimu. aku sudah tidak bisa lagi bertahan denganmu." tambahnya
"widia, maafkan aku. tunggu aku dirumahmu besok. aku janji aku pasti datang."


belum sempat widia menjawab terdengar teriakan di seberang telepon. seperti ada yang sedang memanggil satria. kemudian telepon terputus. widia terdiam dalam keheningan, terisak dalam tangisan dan berfikir keras terhadap keputusannya tadi. dia sadar dia telah melukai satria, dia telah melukai lelaki yang dia sayangi. dia sudah tidak bisa lagi menahan egonya. dia sudah tidak bisa lagi bertahan dalam kesabaran. dalam tangisnya dia tiba-tiba terlelap.

keesokan harinya menjelang senja. widia masih terdiam di kamarnya. dia masih menanti janji dari kekasihnya untuk menemuinya. dia menanti dalam tangisnya. dia semakin meyakinkan dirinya untuk meninggalkan kekasihnya tersebut. kali ini, untuk kesekian kalinya satria telah mengingkari janjinya lagi. dan kekecewaan widia sudah benar-benar dalam level maksimal. dia mengusap air matanya. kemudian beranjak dari tempat tidurnya untuk bergegas ke kamar mandi. namun langkahnya terhenti ketika terdengar ringtone ponselnya berbunyi. seketika widia mengangkat teleponnya. dan terdiam. bibirnya kelu. dia tidak bersuara sampai orang di seberang mematikan teleponnya.

waktu telah menunjukan pukul 22.30. widia masih beriri dalam diam. walaupun di sekelilingnya terlihat banyak aktifitas yang terjadi. banyak orang-orang masih terjaga dalam malamnya. widia masih tertunduk lesu di ICU salah datu rumah sakit di Surabaya. setelah Dion adik satria mengabarinya sore tadi. bahwa kakaknya sedang meregang nyawa karena kecelakaan siang tadi.

hingga pagi datang, widia masih belum bisa memejamkan matanya. kali ini dia sudah diperbolehkan masuk ruang ICU untuk mendampingi kekasihnya. menantinya bangun dan kembali memeluknya. kondisinya sungguh memprihatinkan. kepalanya mengalami benturan keras, kakinya mengalami patah tulang. dan di tambah lagi dengan tidak sadarkan diri. 

hari ini, hari ke tiga widia mendampingi kekasihnya itu di ruang ICU. namun keadaannya masih belum mengalami perubahan. hidupnya masih ditopang oleh beberapa alat bantu. kepala dan kakinya masih diperban. hingga pada akhirnya mama satria memghampirri widia dan berbincang-bincang.

dua bulan kemudian...

terlihat sepasang kekasih yang sedang berjalan menyusuri taman kota. iyaa, mereka adalah satria dan widia. satria terbangun dari komanya sejak satu bulan yang lalu. 

"kau tahu, anak-anak kecil itu tertawa lepas karena yang ada dipikiranya hanya kebahagiaan" jelas widia
"kau tahu, kaulah kebahagiaanku" balas satria

kemudian hening...

"maafkan aku widia..." tambah satria lirih
"aku bukan lagi kekasihmu yang sempurna." tambahnya lagi

"aku mencintaimu bukan karena kesempurnaanmu. aku mencintaimu karana kaulah yang membuatku sempurna. mulai sekarang aku yang akan melengkapimu." ucap widia sambil menggenggam tangan satria.

beberapa menit kemudian mereka beranjak dari bangku kosong di taman tersebut untuk pulang. widia menggandeng satria yang tidak dapat melihat lagi.

"aku akan menjadi cahaya penerangmu satria, sekalipun hanya gelap yang selama ini akan kau lihat..." ucap widia dalam hati

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar